4 Langkah Mudah Belajar Calistung ala Ki Hajar Dewantara

khdCalistung menjadi kontroversi di kalangan orangtua dan pendidik khususnya bagi anak-anak usia dini. Banyak sekolah TK/RA, tempat les hingga orangtua yang memaksakan mereka untuk bisa calistung pada sebuah lembar kerja yang sesungguhnya mungkin dirasa membosankan oleh anak-anak. Tak pelak, kegiatan belajar calistung yang seolah dipaksakan ini lebih banyaknya dibenci dibanding disukai, anak lebih cenderung benci belajar. Hasil penanaman calistung yang tidak efektif hanya akan memberikan anak bisa calistung, tapi tidak menggemarinya.

Teknik belajar calistung yang seperti ini menjadi perhatian Ki Hajar Dewantara dan menjadi alasan dibalik kritikannya. KHD mengkritik kecenderungan sebagian besar orangtua yang memaksa anak untuk bisa calistung pada usia dini dengan cara yang tidak menyenangkan. Menurutnya, pendidikan itu harus menuntun tumbuh kembang potensi anak, menstimulasi mereka untuk berpikir dan menemukan pengetahuan itu sendiri, bukan mencekokinya.

Bersumber dari cucu Ki Hajar Dewantara, Ibu Ganawati, beliau menuturkan bahwa kakeknya yakni Ki Hajar Dewantara tidak pernah mengajarkan calistung di dalam sebuah ruangan, beliau justru banyak mengajarkan anak dan cucu-cucunya dengan mengajaknya ke alam terbuka seperti taman. Di sana beliau biasanya akan bertanya mengenai jumlah masing-masing jenis bunga yang ada di taman, begitupun besoknya. Beliau akan mengajak anak atau cucu-cucunya ke taman lagi untuk menghitung ulang bunga yang ada di taman. Dari pembelajaran inilah bisa disimpulkan 4 langkah mudah belajar calistung ala Ki hajar Dewantara yang dirangkum berikut ini,  :

Rasa Ingin Tahu

Anak-anak khususnya usia dini memiliki keingintahuan yang besar. Sebagai orangtua, kita bisa memanfaatkan hal ini untuk memancing rasa keingintahuannya sesuai dengan tahap perkembangannya. Anda bisa menggunakan berbagai macam benda dan obyek sebagai alat peraga, seperti bunga, daun, buah, dan lain sebagainya.

Kesempatan Belajar

Terkadang orang dewasa merasa tidak sabar akan proses belajar anak-anak yang terkesan lambat dan lama. Dalam kisah di atas, Ki Hajar Dewantara tidak berusaha menjelaskan jumlah bunga kepada cucu-cucunya, tetapi memberikan kesempatan belajar kepada cucu-cucunya untuk belajar dan dan berbuat kekeliruan, lalu berusaha untuk memperbaiki kekeliruannya di kesempatan selanjutnya. Inilah pola pembelajaran yang perlu kita tiru dari seorang Ki Hajar Dewantara yang seringnya dilalaikan.

Pengalaman Seru

Proses belajar harus terus meningkat dari biasanya, tetapi perlu ditekankan bahwa peningkatan tersebut tidak boleh terlalu sulit. Belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan seru ketika tantangan belajar sedikit berada di atas kemampuan sang anak.

Kebermaknaan

Proses belajar menggunakan benda atau objek yang ada di sekitarnya akan membuat mereka merasa bermakna. Mereka memiliki kesempatan menjelaskan benda atau obyek yang dipelajarinya ke orangtua, saudara hingga teman-temannya. Oleh karena itu, jika ingin mengenalkan tulisan atau membaca, ada baiknya dimulai dengan mengeja atau menulis nama sendiri, nama orangtua, teman sebangkunya, hingga benda-benda yang disukainya.

Bagaimana, mudah bukan? Langkah-langkah di atas mencerminkan bahwa setiap tempat, setiap waktu adalah belajar. Tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari proses belajar, karena belajar bisa kapan saja dan dimana saja. Mari mulai mengajak anak belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara di rumah, sekolah, di taman, dimanapun kita berada, karena belajar itu haruslah menyenangkan?