7 Ucapan Orangtua Yang Berpengaruh Buruk Terhadap Psikologis Anak

perkataan orangtua, psikologi anak, cara mendidik anak, hipnoterapi, klinik hipnoterapi, hipnoterapi jakarta, cara hipnotis, belajar hipnotis, ilmu hipnotis, hipnoterapi anak, cara belajar hipnotis, hipnotis, kesehatan tubuh, cara mendidik anak yang baikSebagai orangtua, seringnya kita tidak menyadari apa-apa yang dikatakan kepada anak. Merasa apa yang dikatakan wajar dan biasa saja, padahal ternyata ada banyak hal yang berdampak buruk khususnya bagi psikologis anak. Keadaan psikologi yang tertekan, terganggu, memiliki efek jangka panjang. Jika kita tidak menginginkan efek negatif tersebut berlangsung lama dan tidak bisa dihilangkan, maka langkah pencegahan harus dilakukan mulai sekarang.

Pencegahan akan dianggap lebih efektif dibanding mengobati saat efek nagatif yang tidak diinginkan telah terjadi. Apakah Anda yakin apa yang dikatakan kepada anak-anak tidak ada yang salah? Cek yuk, apakah kata-kata yang berefek negatif pada psikologi anak di bawah ini sering Ayah dan Bunda katakan?

“Kenapa sih kamu begini….?”

Ayah, Bunda, seringkah Anda mengatakan hal demikian kepada anak di saat kesal dan arah akan tingkah lakunya? Ucapan ini seringkali terlontar dari para orantua tanpa disadari, dan ternyata perkataan jenis ini memiliki efek nagatif yang sangat besar bagi perkembangan psikologis mereka.

Bagi anak-anak yang berpikir kritis dan sensitif, mereka akan berpikir bahwa Anda menyesal telah memiliki anak seperti dirinya. Mereka akan merasa tidak diterima dengan baik sebagai anak dan anggota keluarga, serta tidak disayangi seperti anak-anak lainnya. Padahal kita tidak memiliki maksud demikian, bukan? Jadi, alangkah baiknya kita selalu memperhatikan setiap ucapan yang kita lontarkan kepada anak.

Sikap Membanding-bandingkan

Selain bertanya kenapa anak selalu begini dan begitu, perbuatan yang tidak tepat lainnya yang berpotensi merusak psikologi anak adalah sikap membanding-bandingkan. Ketika sang anak tidak melakukan sesuatu yang diharapkan, orangtua seringkali bersikap membanding-bandingkan dengan anggota keluarga lain bahkan teman-teman di sekitarnya. Sering membanding-bandingkan anak dengan si A atau si B ternyata berpotensi menurunkan rasa percaya diri anak. Mereka menjadi merasa dirinya buruk dan selalu tidak sebaik orang yang dibadingkan dengannya.

Rasa percaya diri merupakan modal utama dalam perkembangan psikologis anak di kemudian hari, hingga mengantarkan dirinya pada kesuksesan. Jika Anda ingin melihat anak sukses di kemudian hari, hentikan kebiasaan membandingkan anak-anak dengan orang lain. Beritahukan bahaya sikap membandingkan ini juga kepada pasangan dan orang-orang terdekat.

Berkata Bodoh

Dalam beberapa kesempatan, terkadang orangtua keceplosan untuk berkata “bodoh” kepada anak. Misalnya saat anak tidak bisa mengerjakan PR nya, lama dalam melakukan pekerjaannya dan sebagainya. Meskipun hanya bercanda sekalipun, pastikan Anda tidak mengatai mereka sebagai anak yang bodoh. Anak-anak seperti wadah kosong yang siap menerima apapun isinya. Apa yang dikatakan kepada anak, itulah yang akan mereka terima dan tanamkan dalam benaknya sehingga jangan heran jika mereka berpikir sebagao anak yang bodoh dan tidak sepandai orang lain. Sebisa mungkin, gunakan kata-kata dan pujian yang positif agar mereka pun memiliki pribadi yang positif ke depannya.

“Jangan seperti Ayah/Bunda ya…”

Ibu atau ayah yang sedang kesal pada pasangannya biasanya menjadi terbawa-bawa ke dalam suasana keluarga hingga mengatakan hal yang demikian. Contoh, “Kamu jangan jorok seperti Ayah ya nak!”, secara tidak langsung, perkataan ini akan mengilangkan kepercayaan terhadap sosok ayahnya sendiri. Ayah dan Bunda adalah panutan bagi anak-anak serta teman pertaa dalam kehidupannya sehingga ada baiknya jika Ayah dan Bunda tidak saling mengatai dengan perkataan yang negatif apalagi jika sampai saling menjelek-jelekkan diri masing-masing.

“Ini bukan urusan anak kecil!”

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, namun sebisa mungkin hindari perkataan tersebut jika tidak ingin mereka mengetahui hal-hal yang memang belum layak diketahui. Jelaskan dengan baik dan hati-hati tanpa menekankan bahwa mereka tidak berhak tahu karena masih kecil. Tahukah Anda bahwa kebanyakan anak-anak ingin menjadi seperti orang dewasa, biarkan mereka merasa dirinya sudah cukup besar dan dewasa meskipun usianya masih sangat kecil. Hal ini sangat bermanfaat dalam mengajarkan rasa tanggung jawab sejak dini.

“Nanti Ayah/Ibu tidak sayang kalian lagi”

Semua kalimat yang bermakna ancaman tidak baik bagi perkembangan psikologinya, apalagi jika mereka diancam tidak akan disayangi lagi. Setiap ucapan yang didengar oleh anak, mampu diingat hingga ia dewasa. Tentunya setiap orangtua menginginkan anak berperilaku baik tanpa rasa takut, bukan?

Memarahi anak saat jatuh

Jatuh saat berjalan atau berlari merupakan hal yang wajar dan alamiah, orang dewasa pun terkadang terjatuh saat sedang berjalan atau berlari, begitupun halnya dengan mereka. Jika Anda ingin memberi peringatan kepada anak-anak supata tidak berlari-lari, gunakan kalimat yang terdengar positif. JIka mereka terjatuh, fokuskan kepada luka atau rasa sakit yang mereka alami dan ingatkan agar mereka lebih berhati-hati dan mendengarkan perintah.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE