Anak Mulai Terbiasa Berbohong, Bagaimana Cara Efektif Menghadapinya?

Berbohong menjadi kebiasaan yang terlihat lumrah. Namun, dampak dari kebohongan ternyata sangat mengerikan. Sebagai contoh, begitu banyaknya berita bohong alias berita hoax yang saat ini berseliweran lewat media sosial. Nah, terkait kebiasaan berbohong ini, sebagai orang tua perlu menyiasati agar si kecil tidak terbiasa dengan kebohongan.

anak terbiasa berbohong

Hanya saja, apapun yang dilakukan oleh orang tua, ada saja yang membuat anak memilih untuk berbohong. Sebagai orang tua, bunda memiliki insting ketika anak mulai menceritakan kebohongan. Namun, bagaimana sebagai orang tua harus menghadapi kebohongan yang dilakukan oleh si kecil? Nah, berikut ini tips cara menghadapi anak yang mulai berbohong:

1. Jangan berikan hukuman
Tips pertama yang perlu bund perhatikan adalah, jangan memberi hukuman. Kebohongan yang dilakukan anak karena saat itu dia merasa telah berlaku salah. Kebohongan itu dipilih agar dia tidak memperoleh hukuman. Oleh karena itu, pastikan bunda tidak memberi hukuman. Namun, dorong anak agar berbicara jujur.

Untuk mendorong anak bersikap jujur, jangan gunakan kata-kata yang menekan atau menuduh. Sebagai contoh, ketika si kecil memecahkan vas. Tidak ada salahnya kalau bunda memperlihatkan ‘hasil karya’ tersebut sembari berkata, “Duh, vasnya kok bisa pecah, ya?”.

2. Berikan arahan yang tepat
Riset yang dilakukan oleh Angela Crossman Ph.D dari John Jay College of Criminal Justice, Amerika Serikat, anak yang berbohong punya kecenderungan IQ tinggi. Apalagi, ketika kebohongan itu diutarakan oleh anak usia sebelum TK. Kebohongan itu berasal dari imajinasi anak yang luas.

Nah, untuk itu, bunda perlu mengarahkan kemampuan kreatif anak pada metode yang tepat. Tidak ada salahnya untuk meningkatkan kemampuan imajinasi si kecil dengan menyediakan buku dalam jumlah yang banyak. Selain itu, dorong anak untuk terus bercerita demi meningkatkan imajinasinya.

3. Jangan berlebihan
Ketika si kecil sudah berusia agak dewasa, kebohongan yang biasa dilakukan memiliki landasan kuat. Misalnya, kebohongan yang dilakukan demi melindungi saudara atau temannya. Pada kondisi seperti ini, lakukan pendekatan yang tepat. Caranya, dengan memberi penjelasan kalau kebohongan bakal diikuti dengan konsekuensi tertentu. Jadi, anak harus siap dengan konsekuensi tersebut ketika berbohong.

4. Berikan perhatian
Terakhir, bunda harus memberi perhatian lebih ketika si kecil membawa kebiasaan berbohong itu hingga berusia remaja. Para ahli mengungkapkan, pribadi yang cemas memiliki kecenderungan untuk berbohong. Hal ini bisa menjadi patokan tingkat stres yang tengah dialami oleh anak. Nah, ketika kebohongan itu dipakai sebagai langkah untuk memanipulasi orang lain, ini perlu diwaspadai. Tak ada salahnya kalau bunda melakukan konsultasi dengan psikolog.