Bahayakah, Jika Sang Kakak Selalu Mengalah?

kakak mengalah pada adikBagi orangtua yang memiliki 2 anak atau lebih, seringkali meminta anak yang lebih tua (kakak) mengalah pada adik-adiknya dalam berbagai hal. Misalnya, saat rebutan remote TV, mainan, hingga perlakuan kasih sayang. Lantas, apakah tindakan meminta sang Kakak untuk selalu mengalah pada adik-adiknya sudah tepat dan baik bagi perkembangan kepribadiannya? Mari telusuri lebih jauh dari pendapat psikolog berikut ini.

Seorang psikolog bernama Endah Kurniadarmi yang merupakan seorang Direktur Pusat Perkembangan Anak Indonesia, dalam buku parentingnya berjudul, “Nyebur ke Dunia Anak, menjelaskan bahwa mendidik anak dengan pola asuh di mana sang Kakak harus selalu bersikap mengalah pada adik-adiknya sangatlah tidak sehat bagi perkembangan kepribadian dan psikologisnya. Kakak yang selalu mengalah cenderung tumbuh menjadi anak yang kurang memiliki rasa percaya diri dan optimism dalam kehidupannya. Sang Kakak pun kerapkali dihinggapi rasa ragu dan takut jika tindakannya akan mengecewakan orang lain khususnya anggota keluarganya.

Dalam hal ini, orangtua perlu memahami bahwa boleh saja sang Kakak mengalah sekali-kali waktu, namun anak juga perlu mengetahui dan memahami mengapa ia harus mengalah pada adik-adiknya. Meskipun demikian, sang Kakak juga perlu mengerti bahwa ada saatnya ia mempertahankan apa yang menjadi miliknya, sehingga ia pun perlu memahami mengapa ia harus mempertahankannya dari orang lain.

Masalah yang kerap kali timbul antara Kakak dan Adik ini seringkali terjadi dan ditindak dengan cara yang tidak tepat oleh sebagian besar orangtua. Tahukah Ayah, Bunda bahwa rumah adalah tempat pertama bagi anak untuk mendapatkan jawaban terbaik dari masalah yang satu ini. Sehingga, jika Ayah dan Bunda tidak tepat dalam menanggulanginya, alhasil efek-efek negatif yang mungkin timbul di luaran sana akan menimpa sang Kakak.

Jika anak selalu dibiarkan dan diminta untuk selalu mengalah, khawatir ketika di luar sana mereka akan memiliki sikap serupa yang menjadikannya tidak bisa mempertahankan apa yang menjadi hak miliknya. Kemungkinan dibully oleh teman sangat tinggi, dan semakin haru psikologi mereka akan terus tertekan jika sikap mengalah terus ditanamkan.

Misalnya aat Kakak dan Adik rebutan remote TV untuk menonton acara kesayangannya masing-masing, Ayah dan Bunda mungkin bisa melihat terlebih dahulu siapa yang pertama kali memegang remote TV atau menonton TV. Jika si Kakak yang pertama kali menonton, mungkin Ayah dan Bunda bisa meminta si Kakak untuk mengalah pada adiknya. Kondisi lain berubah jika masalahnya yang pertama memegang remote TV ternyata sang Kakak, maka tentu saja si Adik perlu diberi pengertian bahwa Kakaknya lah yang berhak pertama kali untuk menonton acara TV yang diinginkannya. Dengan begitu diharapkan mereka memahami kapan harus mengalah dan mempertahankan haknya dalam berbagai kondisi.

Sebagai orangtua, kita juga perlu menciptakan kondisi yang paling nyaman bagi anak-anak, termasuk memberikan pendidikan kapan mereka harus mengalah dan kapan mereka harus mempertahankan apa yang menjadi haknya. Seorang ibu, harus menjadi penengah ketika terjadi keributan antara sang Kakak dan Adiknya seperti yang dicontohkan di atas. Kita juga perlu memahami bahwa sebelum kehadiran sang adik, sang Kakak selalu mendapatkan keistimewaan dalam keluarga, seperti mendapatkan kasih sayang dan waktu yang optimal dari Ayah dan Bunda, namun ketika memiliki sang adik ia menjadi terpaksa berbagi perhatian dengan adiknya. Tentu saja akan ada kecemburuan baik dari sang Kakak maupun sang Adik dalam hal ini, namun untuk itulah orangtua perlu mengatasi kecemburuan ini agar mereka bisa bangga dan nyaman dalam perannya masing-masing.

Dengan menyadari posisinya sebagai Kakak atau adik, diharapkan anak mampu menjalani proses pembentukan kepribadiannya sehingga menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan bertanggung jawab serta menjadi sosok yang saling membutuhkan dan menyenangkan bagaimanapun kondisinya.