Berbicara Tentang Gender Dan Perbedaan Gender Dengan Anak-Anak

bicara seks dengan anak, pendidikan seks anak, pendidikan seks anak elly risman, pendidikan seks sedari diniTidak pernah terlalu dini untuk berbicara tentang seks dengan anak Anda. Berbicara tentang seks, seksualitas dan tubuh sedari dini dapat membantu anak Anda memahami bahwa seks dan seksualitas adalah normal, bagian hidup sehat. Hal ini juga dapat membuat percakapan nanti lebih mudah.

Seksualitas bukan hanya tentang seks. Ini juga cara anak Anda mengetahui perkembangan tubuhnya. Dan bagaimana anak Anda memahami dan mengekspresikan perasaan keintiman, ketarikan dan kasih sayang bagi orang lain, dan bagaimana dia mengembangkan dan memelihara hubungan saling menghormati.

Sampaikan kepada anak Anda dari awal bahwa ia dapat datang kepada Anda untuk informasi yang terbuka, jujur dan dapat diandalkan, dan bahwa ia tidak perlu merasa takut atau malu untuk bertanya tentang seks dan seksualitas.

Bicara tentang seks dan seksualitas bukanlah percakapan hanya dalam satu pertemuan. Namun merupakan percakapan yang berlanjut dan berkembang sebagaimana anak Anda tumbuh dan disesuaikan dengan kondisi anak.

Bila Anda hendak berbicara dengan anak mengenai seks, maka pertama-tama, cari tahu apa yang anak Anda sudah ketahui? Menurutnya bayi berasal dari mana, misalnya. Kedua, cobalah memperbaiki kesalahan informasi apapun dan memberikan fakta-fakta. Misalnya, ‘Bayi tidak tumbuh di perut mama, tetapi mereka tumbuh di tempat khusus di dalam perut mama yang disebut rahim’.

Beberapa anak tidak pernah mengajukan pertanyaan. Anda mungkin perlu untuk memulai percakapan. Misalnya, jika seseorang berbicara tentang kehamilan di TV Anda bisa mengatakan, ‘Di Tv lagi di bahas tentang kehamilan lho, dek. Adek tahu apa itu hamil?’

Sementara ketika anak Anda bertanya tentang seks, dan Anda tidak tahu harus berkata apa, maka Anda dapat memberitahu anak Anda bahwa Anda senang ia bertanya, namun saat ini Anda tidak tahu bagaimana menjawabnya, dan bahwa Anda akan mencari beberapa informasi dan kembali kepadanya. Kemudian pastikan Anda mendapatkan jawabannya dan kembali kepadanya. Atau Anda bisa menyarankan untuk mencari informasi tersebut bersama-sama. Anda tidak perlu menjadi ahli, anak hanya perlu tahu bahwa dia bisa meminta apa pun yang dia perlu.

Ketika berbicara dengan anak, maka gunakan bahasa yang sederhana dan jujur. Jelaskan hal-hal tertentu pada tingkat dimana anak dapat memahaminya. Anak yang baru berusia enam tahun tidak akan mau penjelasan panjang ovulasi, meskipun ia mungkin tertarik untuk mengetahui bahwa perempuan memiliki telur sangat kecil (atau ovum) yang dapat membuat bayi.

Anda mungkin merasa malu berbicara tentang seksualitas, atau Anda mungkin merasa tidak nyaman menggunakan kata-kata seperti ‘Penis’ atau ‘Vagina’ untuk berbicara tentang tubuh. Itu normal. Anda dapat mempersiapkan diri dengan berpikir tentang apa yang Anda merasa nyaman untuk ucapkan. Misalnya, jika Anda OK dengan berbicara tentang pantat tapi tidak payudara, coba mulai percakapan dengan membahas tubuh bagian belakang tersebut.

Dalam berbicara tentang seks, kedua orang tua baiknya terlibat. Ketika kedua ibu dan ayah terlibat dalam diskusi tentang seks, mereka menunjukkan kepada anak-anak bahwa itu OK untuk anak laki-laki dan perempuan, pria dan wanita, untuk berbicara tentang seks dan seksualitas. Hal ini dapat membantu semua anak untuk merasa lebih nyaman berbicara tentang tubuh mereka, untuk mengambil tanggung jawab atas perasaan seksual.

Hal ini selaras dengan pemaparan psikolog Elly Risman, Psi, orangtua dianjurkan melakukan dual parenting dan tetap harus sadar dan sepakat dalam mendidik seksualitas anak demi menjaga pemahaman dan keselamatan mereka sebagai bentuk tanggung jawab pada Allah SWT. Tetap miliki 3C itu : Concern, Commitment, dan Continuity.

Buatlah daftar dan prioritaskan apa saja yang perlu dididikkan pada anak sesuai usia, tingkat pemahamannya, kemampuan berpikirnya, dan perkembangan emosinya. Buat jadwal pembahasannya sepekan sekali dengan masing-masing anak. Mulai pembahasan dari hal-hal kekinian.

Selalu gunakan landasan agama dan istilah Al Quran atau kitab suci masing masing. Keluarlah dari tabu dan saru serta miliki miliki the courage to be imperfect. Tingkatkan terus pengetahuan dan keterampilan berbicara. Semoga dengan demikian anak menjadi lebih paham dan aware mengenai seks dan seksualitas.