Cara Efektif Mendidik Anak Tanpa Berteriak & Membentak

UntitledTak jarang, saat anak melakukan sesuatu yang tidak sreg dengan hati dan keinginan orangtua, kita malah memarahi dan membentak sang anak. Apalagi jika saat itu kondisi emosi sedang tidak stabil, mudah berubah mood karena berbagai alasan. Di sisi lain, sebenarnya anak-anak tak pantas dan tak layak menjadi sasaran ketidaklabilan emosi orangtuanya, mungkin seringkali hal ini disadari berulangkali oleh para orangtua, tetapi keterbatasan dalam mengontrol emosi masih menjadi alasan untuk menghentikan mendidik anak dengan membentak.

Tahukah ayah, bunda beberapa literatur dan artikel anak mengungkapkan bahwa bahaya membentak anak sangat berefek negatif pada keadaan psikologisnya, mereka akan merasa tertekan dan terus memendam rasa tertekannya tersebut. Selain berpengaruh buruk terhadap psikologisnya, membentak juga akan membuat renggang ikatan batin antara orangtua dengan anak, bahkan bentakan tidak akan mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Anak yang berusia di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak, sifat pasif mereka inilah yang menjadi alasan tidak bisa diukur seberapa besarnya dampak yang terjadi terhadap psikologis anak akibat dibentak.

Anak cenderung meniru apa yang dilihat dan didengarnya, seorang anak yang dibentak dan diomeli atau dimarahi dengan berteriak cenderung akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, gampang tersinggung, cepat marah, bahkan mungkin akan menganggap sah-sah saja berkomunikasi menggunakan bentakan, omelan dan kemarahan kepada orang-orang di sekitarnya tanpa pandang bulu.

Banyak faktor yang menjadi penyebab orangtua paling sering melakukan kesalahan dalam mendidik anaknya, salah satunya mengabaikan faktor-faktor penting dalam teknik berkomunikasi yang akhirnya menganggap seolah-olah anaknya seperti anak nakal yang tidak mau mendengarkan perkataan orangtuanya. Lalu apa saja faktor-faktor penting dan cara mendidik anak yang baik tersebut? Berikut di antaranya:

Faktor komunikasi dua arah. Pastikan bahwa saat Anda berbicara dengan sang anak, Anda benar-benar menatap matanya, begitupula dengan mereka. Hindari berbicara saat salah satu dari Anda atau keduanya saling melakukan aktivitas lain seperti, mengajak bicara anak tetapi Anda malah sambil bermain gadget, atau sebaliknya. Hentikan semua aktivitas apapun saat Anda berusaha untuk berbicara dengan mereka. Pegang kedua tangannya lalu minta mereka untuk berdiri menghadap Anda atau duduk di hadapan Anda saat ingin berbicara dengan mereka, pastikan mereka terpusat perhatiannya pada Anda yang hendak berbicara. Setelah mereka terpusat perhatiannya, mulai ajak bicara dengan lembut. Contoh: “sayang, ibu mau berbicara sebentar. Dengarkan baik-baik ya…” (sambil tetap memegang tangannya).

Faktor kesepakatan bersama. Buat aturan main yang jelas serta konsekuensinya saat anak sudah tepat untuk dikenalkan dengan sebab dan akibat. Anak di atas 5 tahun harus sudah dikenalkan dengan konsekuensi, mulailah dengan hal-hal yang sepele dan ringan agar mereka merasa tidak berat dalam menjalaninya. Misalnya, saat mereka bermain berikan aturan yang jelas untuk membereskan mainannya jika mereka telah selesai menggunakannya. Jika mereka tidak melakukannya, berikan konsekuensi untuk dikurangi jatah jam menonton TV dan lain sebagainya. Pastikan ada tekanan konsistensi waktu dimulai dan sampai kapan konsekuensi tersebut akan dihentikan. Misal, “Jika kamu tetap tidak membereskan mainannya sendiri, mulai hari ini dan seterusnya kamu hanya boleh menonton TV selama 2 jam dalam sehari.” Dan beritahu sanksi yang akan mereka jalani jika melanggar kesapakatan tersebut.

Gunakan suara datar dan bahasa yang mudah dimengerti. Sebisa mungkin, berkomunikasilah dengan suara yang lemah lembut tanpa berteriak dan disertai bentakan seperti cara mendidik anak secara islami meskipun Anda dalam kondisi kesal dan marah karena keteledoran sang anak. Ingatlah bahwa mereka masih belum mengetahui apapun di dunia ini, mereka adalah makhluk baru yang serba ingin tahu, cobalah untuk mengarahkannya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tenangkan diri jika Anda merasa kesal dan marah agar anak-anak tak menjadi sasaran kemarahan.

Gunakan kekuatan bisikan. Saat semua yang telah dilakukan terasa tidak mempan untuk memberitahu anak mengenai apa yang telah dilakukannya, jurus terakhir adalah dengan menggunakan jurus “bisikan”. Misalnya dengan membisikkan perihal kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya, “Kakak sayang, masih mau nonton TV kan? Mama ingatkan Kakak ya, kalau besok Kakak masih mau nonton TV mainannya segera dibereskan jika sudah selesai.” Jika sang anak tetap tidak mengindahkan usaha Anda dan melakukan pelanggaran secara kontinyu maka sudah tidak perlu banyak bicara lagi, lakukan tindakan yang riil. Contohnya dengan mengamankan TV agar mereka tidak bisa lagi menonton TV saat itu, hal ini perlu dilakukan untuk menunjukkan sikap tegas dan konsisten Anda sebagai orangtua dalam mendidiknya.

Selain faktor-faktor di atas perlu diketahui juga cara mendidik anak usia 2 tahun dan cara mendidik anak laki laki akan berbeda teknik, Anda juga perlu mengetahui dampak negatif akibat salah asuh dengan membentak, yaitu di antaranya:

  • Saat anak tumbuh dewasa, mereka akan menjadi orang yang minder dan takut mencoba hal-hal baru. Jiawanya selalu merasa bersalah sehinga hidupnya penuh keraguan dan merasa tidak percaya diri.
  • Anak akan tumbuh dengan sifat yang pemarah, egois, judes karena mereka dibentuk dengan kemarahan orangtuanya. Jika ada yang tidak berkenan di hatinya kerana sikap kawannya, mereka akan cenderung agresif dan memarahi rekannya, meskipun hanya masalah sepele.
  • Anak akan memiliki sifat menantang, keras kepala dan suka membantah nasihat atau perintah orangtuanya.
  • Anak akan memiliki pribadi yang tertutup dan suka menyimpan unek-uneknya, takut mengutarakan sesuatu dan takut dipersalahkan.
  • Anak menjadi apatis dan sering tidak peduli pada suatu hal.

Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa satu bentakan akan merusak jutaan sel otak anak, anak yang masih dalam masa golden age (2-3 tahun pertama) akan mengalami keguguran sel otak akibat dari suara keras yang keluar dari orangtuanya dan hal tersebut akan merusak cara mencerdaskan anak yang telah diusahakan orang tuanya sendiri. Sebaliknya, rangkaian otak akan terbentuk indah saat ibu sedang memberikan belaian lembut kasih sayang pada anaknya sambil menyusui, jadi rajin-rajinlah membelai sang anak dengan kasih sayang yang tulus agar otaknya cemerlang.

Penelitian tersebut telah dilakukan oleh Lise Gliot pada anaknya sendiri, ia memasang kabel perekam otak yang terhubung dengan monitor computer untuk bisa melihat setiap perubahan respon di dalam otak anaknya. Hasilnya mencengangkan, rangkaian indah yang terbentuk saat anaknya disusui ibunya tiba-tiba menggelembung seperti balon dan pecah berantakan serta terjadi perubahan warna. Hal ini terjadi baru karena sebuah teriakan saja, apalagi jika anak terus dibentak dan dimarahi secara tak terkendali bukan tidak mungkin akan mengganggu struktur otak dari sang anak, bahkan organ tubuh penting lainnya di dalam tubuh seperti hati dan jantung.

Kedekatan yang terjalin antara anak dan orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan otak anak serta keadaan psikologisnya, tidak perlu khawatir anak menjadi cengeng dan manja. Mari berusaha mendidik anak untuk tidak membentak dan tidak melakukan teriakan khususnya pada usia golden age (1-6 tahun) agar kita tidak merusak kecerdasan emosionalnya dengan cara mendidik anak menurut islam.