Kapan Anak Siap Menerima Toilet Training & Toilet Learning?

toilet trainingIstilah toilet training sudah begitu familiar dibanding istilah toilet learning. Kedua istilah ini memiliki kesamaan yaitu mengajarkan sang anak untuk bisa BAK & BAB secara mandiri, namun ada perbedaan dari sisi kepentingan di mana toilet learning lebih mementingkan kesiapan fisik dan mental si kecil, sedangkan toilet training sendiri hanya mengacu kepada cara mengajarkan anak mengenai bagaimana BAK & BAB di tempat yang seharusnya tanpa mengindahkan kepentingan fisik dan mental mereka.

Kebanyakan orangtua saat ini terlalu dini dalam menerapkan toilet training pada anaknya, padahal toilet training yang terlalu terburu-buru diterapkan justru hanya akan membuat anak merasa dipaksa melakukan latihan yang mungkin belum saatnya. Alhasil, tak sedikit dari mereka yang akan mengompol sesekali tanpa kendali. Contohnya, saat di TK anak tiba-tiba ngompol dikelasnya padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu. Hal ini bisa diindikasikan bahwa anak telah kehilangan kemampuan mengontrol BAK-nya karena mungkin ketika balita Ibu telah menerapkan toilet training padahal sang anak belum siap untuk menerima pengajaran tersebut. Berbeda sekali dengan toilet training yang lebih menitikberatkan kepada kesiapan sang anak secara fisik dan mental untuk bisa BAK & BAB di tempat seharusnya tanpa merasa tertekan.

Lalu, kapankah anak siap menerima toilet training & toilet learning? Pada dasarnya, toilet training lebih mengacu kepada tanda-tanda secara fisik sehingga Anda bisa mengenali salah satu tandanya dengan mudah. Seperti dari faktor usia sudah menginjak usia 18 bulan, karena toilet training bisa diajarkan pada anak mulai usia 18 bulan – 3 tahun. Untuk lebih memahami kapan anak siap menerima toilet learning, berikut tanda-tanda kesiapan sang anak baik dilihat dari segi fisik maupun mentalnya.

Siap secara fisik:

  • Anak mampu duduk dan bangun sendiri saat menggunakan kloset atau tempat latihan BAK-nya (potty chair).
  • Sudah mampu mengangkat gayung, mengambil air dan menyiramnya sendiri ke bekas BAK-nya.
  • Sudah mampu mengendalikan keinginan buang airnya yang ditandai dengan tidak mengompol selama selang waktu beberapa jam, atau pola BAK & BAB nya sudah lebih teratur dan terjadwal.
  • Menunjukkan ekspresi wajah meringis saat hendak pipis atau menunjukkan gelagat khasnya saat hendak buang hajat.

Siap secara mental:

  • Sedikitnya sang anak sudah mampu memahami kalimat perintah atau intsruksi sederhana dari orangtuanya, seperti “Kakak mau pipis? Kalau mau pipis bilang Mama, ya!”.
  • Anak bisa mengkomunikasikan bahwa ia ingin BAK atau BAB baik secara verbal maupun non verbal seperti menarik tangan hendak ke kamar mandi atau memegang-megang celana, dan lain-lain.
  • Menunjukkan ketertarikan pada kamar mandi, misalnya sering mengikuti orang dewasa ke kamar mandi dan mengetahui fungsi peralatan yang ada di sana, mungkin mereka juga mampu mengeksplorasi kemampuannya dengan menarik dan menurunkan celana atau bajunya.
  • Sudah mampu mengontrol atau menahan BAK & BAB hingga ke kamar mandi.

Itulah beberapa tanda yang akan ditunjukkan si kecil saat mereka siap menerima toilet training dan toilet learning baik secara fisik maupun mental. Selain tanda-tanda di atas, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat Anda menerapkan toilet learning, salah satunya adalah jangan marah atau memberikan hujatan saat si kecil mengompol di mana saja. Sebaiknya gunakan kalimat lain yang lebih bersifat tidak menyalahkan anak. Misal: “lain kali coba ditahan ya pipisnya sambil lari ke kamar mandi.”