Nilai Keluarga di Film Train To Busan

savelaguanak, lagu anak ceriaJika berbicara tentang film korea, maka kita akan lebih familiar dengan genre fim romantis ataupun horor yang lebih akrab dengan hantu – terutama yang stereotip berpakaian putih dengan rambut hitam panjang.

Namun berbeda dengan film Train to Busan. Sutradara film ini, Yeon Sang-ho, merupakan pelopor dalam industri film Korea dengan mengambil genre berbeda ke bioskop: Zombie!

Train to Busan bukan semata film zombie. Ini juga film keluarga.

Jika sebelumnya Anda pernah menonton film World War Z, maka Anda akan familiar dengan plot cerita nya ketika menonton Train to Busan.

Tokoh utama World War Z dan Train to Busan sama-sama seorang ayah yang menyelamatkan keluarganya dari amukan zombie.

Di World War Z kita bertemu tokoh Gerry Lane yang dimainkan oleh Brad pitt yang membawa keluarganya ke tempat aman dari serangan zombie, sementara di Train to Busan kita bertemu Sok-woo yang dimainkan oleh Gong Yoo yang bersama putrinya berada dalam kereta ke Busan saat penumpang lain satu per satu berubah jadi zombie.

Yang membedakan anatar kedua film ini adalah jika World War Z lebih fokus pada perang melawan zombie dan mencari heal-nya, maka Train to Busan mengeksplore sisi psikologis dari karakter-karakternya. Kebuasan zombie menjadi faktor yang membangun karakter jadi berkembang seiring film berjalan.

Pada Train to Busan, Sok-woo digambarkan sebagai ayah yang terlalu sibuk bekerja sebagai Manager pendanaan. Ia sampai tidak ingat sudah memberikan barang yang sama pada putrinya yang berulangtahun. Demi menebus kesalahannya, ia akhirnya bersedia mengantar putrinya ke Busan untuk menemui ibu kandungnya, yang berstatus mantan istrinya.

Film ini diatur di dalam kereta KTX menuju ke Busan. Kekacauan pun terjadi di kereta menuju Busan ini, para penumpang satu persatu berubah menjadi zombie dengan cepat. Saat melihat putrinya merelakan tempat duduk di kepada seorang nenek, Sok-woo mengatakan pada putrinya, di situasi genting seperti itu yang harus diutamakan adalah diri sendiri, bukan orang lain. Namun anggapan inilah yang sutradara Sang-ho Yeon ingin bantah sepanjang film.

Dalam Train to Busan kita melihat bagaimana nilai-nilai keutamaan individu dan kelompok dipertentangkan. Kita melihat ada yang ingin selamat dari amukan zombie sambil memanipulasi bahwa ia melakukannnya demi kepentingan kelompok yang lebih besar. Satu-satunya penjahat utama adalah seorang COO setengah baya (Kim Eui-sang) yang pandai menghasut orang-orang disekitarnya. Sifat kotor terdalam manusia seperti hadir. Demi menyelamatkan diri sendiri, apapun dilakukan.

Train to Busan pada akhirnya kisah tentang pengorbanan diri. Momen-momen paling mengharukan film ini terdapat saat ada orang mengorbankan diri demi orang lain, yakni orang yang mereka cintai. Kita melihat ada ayah berkorban demi anak, suami demi istri dan calon anaknya, seorang pemuda demi gadis yang disukai, dua saudara kandung yang saling sayang, bahkan gelandangan yang berkorban demi orang lain.

Yeon berhasil mengirimkan pesan yang kuat tentang nilai-nilai keluarga dan melindungi orang yang kita cintai. Ini film yang menegangkan sekaligus membuat haru dalam waktu yang sama. Recommended! Ini adalah salah satu film zombie terbaik yang penuh dengan nilai positif.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE